Samparona, Jejak Sejarah Baru Kepanduan Indonesia

Oktober 30, 2009 at 3:18 am 5 komentar

Samparona, sebuah kawasan kecil yang luasnya tak lebih dari 30 hektar. 16 Juli 2009 hingga 21 Juli 2009, kawasan ini mencatatkan diri sebagai jejak baru kepanduan Indonesia. Ribuan anggota Pramuka dari berbagai belahan nusantara hadir ditempat ini menggelar Perkemahan Pramuka Putri tingkat Nasional (Perkempinas) yang pertama kalinya dalam sejarah kepanduan Indonesia. Dari Sabang sampai Marauke, mulai mengenalnya. Bahkan namanya melambung melampaui nama Kecamatan tempat kawasan ini berada. Sejauh mana kita mengenal Samparona?

Nama Samparona yang terletak diantara dua kelurahan di Kecamatan Sorawolio Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara yakni Karya Baru dan Kaisabu. Sebenarnya nama asli kawasan ini adalah Wasamparona, dalam bahasa daerah setempat (etnik Cia-cia) dapat diartikan sebagai ‘percikan air’. Bahkan awal tahun 2000-an, nama ini sudah diabadikan sebagai nama Air terjun di kawasan tersebut, Air Terjun Wasamparona. Kira-kira letaknya 5 km dari jalan poros Bau-Bau-Pasarwajo, tepatnya tak jauh dari pintu gerbang markas Yonif 725 Kompi Senapan A Woroagi.
Inilah yang kemudian mengilhami pemberian nama bagi salah satu Bumi Perkemahan (Buper) Pramuka terbesar di Kawasan Timur Indonesia ini. Lokasi Buper ini sekitar 4 Km dari Air terjun tersebut. Bahkan dari kawasan perkotaan kecamatan Sorawolio letaknya sangat dekat, hanya berjarak + 1 km dari Kantor Kecamatan.
Pada medio bulan Maret 2009, kawasan ini tak lebih dari semak belukar dan ilalang yang tiada berguna, bahkan terbilang tandus. Mungkin karena itu, masyarakat tidak memanfaatkannya sebagai lahan perkebunan. Atau mungkin pula, karena areal Samparona oleh masyarakat setempat dipercayai sebagai kawasan tanah adat.
Cerita bertutur masyarakat setempat menyebutkan jika puluhan bahkan ratusan tahun silam, kawasan ini dijadikan sebagai tempat pengembalaan sapi-sapi milik Sultan-Sultan Buton, yang dilepas begitu saja. Konon, agar sapi itu tidak kemana-mana, sudah ‘dipagari’ dengan kekuatan gaib. Lalu kemana sapi-sapi itu? “Sudah banyak yang jadi sapi hutan tapi bukan Anoa” ujar La Sura, kepala kampung setempat.
Ada yang percaya, kalau menemukan sapi itu tidak perlu diusik, sebab boleh jadi sapi itu sudah ‘sapi jadi-jadian’. Tapi ada pula yang percaya kalau, sebenarnya sapi-sapi itu telah berkembang biak di dalam hutan, tanpa terkontrol lagi.

Misteri Samparona
Sudah diungkap sebelumnya, jika kawasan Buper Samparona awalnya tak lebih dari hamparan semak belukar dan ilalang, kontur tanahnya pun tidak berbentuk. Mengontrol kawasan ini menggunakan teknologi tinggi berupa foto citra satelit. Sehingga dapat diketahui bagaimana bentuk dari kawasan ini. Hasilnya, diperoleh jika areal Buper ini ‘diblok’ dengan kawasan hutan tertentu, misalnya hutan jati buatan milik masyarakat disebelah barat, hutan campuran disebelah timur, hutan pinus disebelah selatan dan kawasan pemukiman masyarakat disebelah utara.
Pemerintah dan masyarakat juga tahu jika sebelumnya beberapa titik dikawasan ini pernah ditempatkan transmigran lokal, namun kemudian peregi entah kemana. Saat ‘pembongkaran’ kawasan dengan menggunakan alat berat sebagai awal pekerjaan Buper ini, banyak cerita misteri dibalik Samparona.
Beberapa anggota Pramuka yang sempat memulai perkemahan saat pembukaan areal pernah dihebohkan dengan tontonan ‘mahluk gaib yang sedang bermain bola’. Bahkan, dikawasan hutan jati seringkali ada yang melihat mahluk halus. Uniknya mahluk-mahluk tersebut tidak pernah membuat ‘kacau’ jika ada kegiatan yang digelar di sana. “Yang penting kita santun dan memberi salam, karena mereka juga sama dengan kita yang tidak mau diganggu” papar La Sura, tokoh masyarakat yang mengenal betul kawasan ini.
Karena dipersiapkan sebagai tempat untuk menggelar hajatan nasional, Pemkot Bau-Bau tak tinggal diam. Berdasarkan usul masyarakat setempat, maka awal April 2009 tepatnya di hari Jumat pagi, Buper ini diberi ‘sajian’ berupa pemotongan seekor Kambing sebagai wujud penghargaan penghuni samparona. Hasilnya, semua kegiatan berjalan dengan lancar bahkan kawasan ini sudah menjadi area wisata baru masyarakat kota Bau-Bau. (zah)

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

“Hanya Perang Yang Bukan Wisata” “Tunggunaganda” dan Kejutan Shalat Jumat di Bau-Bau

5 Komentar Add your own

  • 1. anton mistic  |  Februari 17, 2010 pukul 10:02 am

    assalamu’ alaikum. kpan lgi perkemahan nasional di buper samparona

  • 2. salu  |  Maret 12, 2010 pukul 11:28 am

    samparona. kalau kota jawa punya cibubur di kotaq juga t4 perkemahan yg tak kalah menarik yaitu samparona.
    MAJU TERUS KOTA BAU-BAU

  • 3. ciko DKD  |  Juni 29, 2010 pukul 7:44 am

    banyak kenagan di samparona jhe….
    hemmmm.hari – hari yang menyenangkan bagi ku sebagai waslitev

  • 4. halif  |  Februari 18, 2011 pukul 3:16 am

    saya pernah berkema d sini..!

  • 5. halif  |  Februari 18, 2011 pukul 3:17 am

    ccd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


Kepala Daerah

Photo Flipbook Slideshow Maker

Prakata Pimpinan Redaksi

Glitter Photos Kami ucapkan selamat datang di Majalah Semerbak Online Kota Bau-Bau. majalah udara ini merupakan isi dari edisi cetak dari majalah Semerbak yang kami terbitkan setiap bulannya. Kami berharap, masukan saran dan kritik membangun dari pembaca sekalian. Meski kami hanya mengunakan ruang blog, tapi kami berharap para netter dan blogger di Indonesia maupun di belahan dunia ini bisa mengapresiasi terhadap apa yang kami perbuat...selamat Membaca..

Kota Bau-Bau


Photo Flipbook Slideshow Maker

Halaman lain-lain

Link Net Kota Bau-Bau


%d blogger menyukai ini: