“Hanya Perang Yang Bukan Wisata”

Oktober 30, 2009 at 3:17 am Tinggalkan komentar

Bau-Bau telah menjadi ikon wisata Sulawesi Tenggara. Berbagai upaya ’menjual’ kota ini ke publik nasional dan mancanegara terus dilakukan, dari promo tingkat lokal hingga melalui jejaring teknologi. MZ. Amirul Tamim, Walikota Bau-Bau punya satu jurus soal dunia pariwisata. Katanya, kecuali peperangan, apa saja bisa menjadi potensi wisata. Berikut wawancara singkatnya dengan Semerbak;

Bau-Bau telah menjelma menjadi kota wisata, itu menurut kita. Lalu bagaimana respon publik nasional?

Bukan lagi menurut kita, tetapi menurut semua orang yang pernah berkunjung ke kota ini. Visi misi kita juga arah kesana, jadi ada kesinambungan antara potensi daerah dengan kebijakan pemerintahnya. Yang menjadi masalah kalau potensi wisatanya tidak ada, terus kebijakan pemerintahnya mengarah kesana. Jadinya mahal, karena potensi-potensi itu diadakan terlebih dahulu.
Secara nasional Kota Bau-Bau telah menggaung dengan potensi-potensi wisatanya, ada wisata alam, wisata budaya dan wisata bahari. Wisata alam kita beraneka ragam, mulai dari panorama alam Bau-Bau yang indah, hutan-hutannya yang terjaga termasuk lanscape kota yang menarik. Halnya dengan wisata budaya, kita punya Benteng Keraton yang dikenal sebagai benteng terluas di dunia berikut kehidupan masyarakat adat yang ada di dalamnya, serta sejumlah situs-situs yang jumlahnya sangat banyak.
Wisata Bahari pun begitu, laut kita yang bersih dengan terumbu karang dan aneka jenis ikan menghiasi alam bawah laut kita. Termasuk hamparan pantai pasir putih nan bersih dengan aksesori alam yang sangat eksotis. Ada Nirwana, Lakorapu, Kamali, Wantiro dan Palabusa. Itu.

Bau-Bau sudah meramaikan media massa nasional, lalu sudahkah masyarakat menikmati hasil dari semua itu?

Memang harus ada pembenahan kita di beberapa sektor untuk merubah image masyarakat sebagai image warga wisata. Orang paham bahwa kota ini kota wisata, tapi penikmatnya masih sangat terbatas di publik lokal dan regional, padahal kita berharap secara nasional dan internasional sudah bisa berkonstribusi langsung pada warga kota Bau-Bau. Soal hasil itu pasti, sebab terbukti sejumlah even yang kita gelar mampu mengangkat nilai ekonomi masyarakat. Event Perkempinas 2009 dan Festival Perairan Pulau Makasar telah membuktikan itu?

Perkempinas telah menjadi objek wisata?

Nah ini yang harus dipahami, bahwa event apa saja bisa itu adalah potensi wisata. Apalagi kita sukses menggelar even nasional seperti Perkempinas 2009, itu luar biasa. Hanya satu yang bukan potensi wisata, yakni peperangan. Pasar, Masjid, lapangan bola, atau apa saja, kalau areanya dibangun dengan selera wisata ia akan menjadi potensi wisata yang handal. Katakanlah Bau-Bau, sungai yang dulu kotor, kita bangun dengan cita rasa wisata sesuai dengan karakteristik kita. Hasilnya, sungai itu kini berubah menjadi potensi wisata.

Wakatobi namanya sangat melambung sebagai objek wisata nasional. Padahal Bau-Bau jauh lebih dulu mapan ketimbang daerah itu?
Itu pelajaran berharga bagi kita semua, Wakatobi dimana-mana dikenal sebagai wisata bahari yang mendunia. Ini karena ada jejaring internasional yang membantu mempublikasikan wilayah ini. Termasuk penyediaan fasilitasnya. Upaya itu juga telah diupayakan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bau-Bau. Kita semua berharap, lahir desain-desain wisata yang dirancang secara khusus untuk semakin menggeobalkan Bau-Bau di publik nasional dan dunia.

Lalu strategi jitu menjual wisata Bau-Bau?

Kita berbuat dan membangunlah terlebih dahulu. Tentu dengan memperhatikan aspek-aspek wisata. Jaringan ini kita sudah simpulkan dengan kementrian Kebudayaan dan Pariwiasata RI di Jakarta. Bandara kita sudah ’on air’, Pelabuhan Nasional kita sejak lama menjadi jalur penghujung barat dan timur Indonesia. Media nasional sudah mendukung. Sekarang bagaimana ada investasi wisata tumbuh disini. Kita sangat butuh itu. Travel dan semua elemen harus punya gerakan wisata secara terencana. Ini yang harus ditangkap oleh instansi terkait.
Yang pasti kita juga sudah membuat event-event yang berskala nasional. Tapi kita juga butuh dukungan Jakarta (pemerintah pusat, red) dalam membesarkan potensi wisata kita. Bau-Bau tidak kalah dengan apa yang ada di Bali dan di Lombok. Namun yang terpenting bagi kita adalah pola pikir masyarakat Kota Bau-Bau harus berubah secara terencana menjadi pola pikir wisata dengan tetap mempertahankan apa yang kita miliki. (zah)

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

“Bangga Gelar Event Di Bau-Bau” Samparona, Jejak Sejarah Baru Kepanduan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


Kepala Daerah

Photo Flipbook Slideshow Maker

Prakata Pimpinan Redaksi

Glitter Photos Kami ucapkan selamat datang di Majalah Semerbak Online Kota Bau-Bau. majalah udara ini merupakan isi dari edisi cetak dari majalah Semerbak yang kami terbitkan setiap bulannya. Kami berharap, masukan saran dan kritik membangun dari pembaca sekalian. Meski kami hanya mengunakan ruang blog, tapi kami berharap para netter dan blogger di Indonesia maupun di belahan dunia ini bisa mengapresiasi terhadap apa yang kami perbuat...selamat Membaca..

Kota Bau-Bau


Photo Flipbook Slideshow Maker

Halaman lain-lain

Link Net Kota Bau-Bau


%d blogger menyukai ini: