Buah pikiran MZ. Amirul Tamim, M.Si

Maret 24, 2009 at 1:13 am 1.186 komentar

Impian Merekat Pulau Buton dan Muna

cap002Lalu lintas antara Pulau Buton dan Muna yang selama ini hanya terhubung melalui kapal penyeberangan kelas Ferry, digadang akan lebih simpel lagi. Rencananya, kedua pulau besar di kawasan Sulawesi Tenggara ini akan dihubungkan melalui jembatan penyeberangan. Mengingatkan kita jempatan ‘Suramadu’ jembatan penghubung antara Pulau Jawa dan Madura di Jawa Timur. Apakah ini mega proyek dalam impian? Dan apakah ini bisa dikerjakan Sang Walikota dalam 4 tahun sisa kepemimpinannya di kota ini. Apakah ini sesuatu yang mustahil? Berikut petikan wawancara Amirul Tamim;

Benarkah Anda ‘bermimpi’ untuk membuat jembatan penghubung antara Pulau Buton dan Pulau Muna?
Maaf ini bukan mimpi. Tapi sebuah visi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bicara soal visi tentu ada gret-gretnya. Ada jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Pertanyaannya mungkin adalah, bisakah kita mewujudkan itu? Yang pasti, rancangannya sementara kita susun, infrastruktur pendukungnya sementara kita benahi. Namun masalah jembatan penghubung antara Buton-Muna tak bisa lagi disebut sebagai mega proyek?

Kok tidak disebut Mega proyek, bukankah akan menelan anggaran yang cukup besar?
Ya, kadang persepsi kita pada sesuatu hal yang baru selalu dihubungan dengan pembiayaan yang cukup besar. Padahal kemajuan teknologi saat ini, pekerjaan semisal jembatan bukan lagi sesuatu yang mahal, ini yang harus diluruskan, jadi bukan mega proyek. Harusnya kita selalu berpikir yang positif, bahwa adanya jalur jembatan antara Pulau Buton dan Muna memudahkan akses masyarakat. Jadi lebih tepat disebut ‘Mega Sejahtera’ hahahaha…kenapa? Tentu karena hadirnya jembatan itu akses ekonomi masyarakat pasti terus berputar. Itu yang kita inginkan.

Kapan memulai pekerjaan itu?
Dalam beberapa pertemuan dengan masyarakat, Saya banyak mengatakan pengembangan Kota Satelit di kawasan kecamatan Lea-lea Kota Bau-Bau. Kota satelit ini sebuah diorama kota baru di Bau-Bau, Insya Allah. Nah, kalau kota satelit ini secara perlahan terbangun sebagian akses perkotaan juga akan berpusat disana, katakanlah pembangunan stadion olah raga, fasilitas ruang publik, ruang pemukiman yang repsentatif. Desain dan tata ruangnya sementara dirampungkan. Untuk mendukung semua itu perlu akses ekonomi yang lebih mudah dan murah. Jika itu secara perlahan sudah mulai bergerak, jembatan itu akan perlahan juga mulai dibangun. Ini butuh dukungan semua pihak. Sebab khusus jembatan melibatkan pihak lain diluar Pemkot Bau-Bau. Inilah yang pernah kami sampaikan kepada Gubernur Sultra H Nur Alam.

Artinya, Anda ingin mengatakan bahwa pembangunan jembatan itu tidak mudah dan murah?
Bukan itu maksudnya. Bicara soal jembatannya lagi-lagi itu teknologi yang murah. Jangan berpikir tiang pancang beton dengan bobot dan kedalaman sekian, lihat saja di beberapa daerah, tiang utamanya hanya beberapa buah, Jadi sederhananya sama dengan Jembatan Gantung Bau-Bau yang dulu itu, semakin berat bobot diatasnya, semakin kuat jembatan itu, itu teknologinya. Tidak seperti Jembatan Suramadu di Jawa Timur. Itu baru mega proyek, sebab pulau yang dihubungkan jaraknya cukup jauh dan melalui laut yang cukup luas.
Kalau kita bangun jembatan di kawasan Kecamatan Lea-lea sana, Pulau Buton dan Muna tidak terlalu jauh, bahkan terbilang sangat dekat.

Sekali lagi, kapan itu bisa terwujud?
Alhamdulillah kalau seperti itu pertanyaannya, berarti masyarakat kita memang membutuhkan hal itu secepatnya. Hanya memang proses pembangunan tidak ‘sim salabim’ semuanya butuh proses, tapi sekali lagi akses pendukungnya kita sudah bangun, seperti jalan lingkar di kawasan itu. Kalau kita menggunakan kapal cepat dari Kendari Ke Bau-Bau, kita akan melihat kawasan pesisir di Lea-lea sana telah terbuka jalan lingkar, itu berarti kita memang mempersiapkan untuk jembatan itu, tunggu saja tanggal mainnya.
Yang patut diketahui publik bahwa semua ini kita lakukan untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi masyarakat, bukan hanya di Kota Bau-Bau, tapi juga di kawasan-kawasan sekitarnya, apalagi akses jalan dari Buton Utara ke Bau-Bau mulai terbangun, ini yang harus kita tangkap sebagai peluang kebersamaan membangun daerah, apalagi kita semua bercita-cita agar provinsi Buton Raya segera terwujud.
Bau-Bau sebagai sentrumnya harus siap dalam hal infrastruktur. Baik infrastruktur fisik maupun non fisiknya, apalagi kota ini dipercaya publik sebagai ibukota provinsinya saat terbentuk nantinya.

Bagaimana respon pak Gubernur dengan rencana ini?
Alhamdulillah pak Gubernur sangat mendukung, karena keberhasilan di daerah tentu juga keberhasilan pemerintah Provinsi. Tidak ada sekat antara daerah dan provinsi dalam hal membangun. Yang pasti sosok Gubernur H Nur Alam, sosok pembangun yang tidak membuat rongga antara daerah satu dengan yang lainnya, semuanya sama. Ini yang tergambar dalam program Bahteramas yang dicanangkan beliau. Makanya kita semua harus mendukung hal itu. (hamzah)

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

PMI dan Palang Merah Denmark Bantu Bau-Bau Japex & Elnusa Incar Minyak Bau-Bau

1.186 Komentar Add your own