Penyanyi Tembang Buton Jadi Diplomat

Februari 7, 2009 at 3:16 am 3 komentar

sherlyMasih ingat penmbang lagu Buton yang mendayu di era 80-an? Ya benar! Sherly Malinton.. Tanpa terasa 19 tahun sudah dunia diplomasi digeluti Sherly Malinton, penyanyi dan bintang film yang terkenal pada era 1970-1980-an. Namun, naluri seni sang konsul, yang baru enam bulan bertugas di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Chicago, ternyata belum memudar.
Di sela-sela kesibukannya sebagai diplomat, misalnya, Sherly tekun mempersiapkan keikutsertaan masyarakat Indonesia di Chicago dalam acara Glenview’s Annual Indonesian Arts Festival di Spring Green, Wisconsin, Sabtu, 18 Oktober pekan lalu. Tari-tarian tradisional Tanah Air, dipertunjukkan dalam festival seni yang diharapkan dapat mempererat kedekatan budaya Indonesia dan Amerika.
“Masyarakat kita di sini banyak yang rindu kampung halaman. Maka, mereka senang terlibat dalam pergelaran seni budaya untuk mengobati kerinduan mereka akan tanah air,” ujar Sherly, ketika ditemui SP di Chicago, Illinois, belum lama ini.
Sebagai konsul yang membawahi bidang penerangan, sosial, dan budaya (Pensosbud), festival seni praktis tidak pernah luput dari perhatian aktris Indonesia yang memiliki nama lengkap Sylvia Sherly Chaterina tersebut. Apalagi, budaya dan termasuk turisme, adalah salah satu dari tiga bidang yang dikedepankan dalam pelayanan KJRI Chicago, selain bidang ekonomi perdagangan dan konsuler.
Upaya keras ternyata tidak sia-sia. “Dari waktu ke waktu, semakin banyak warga Amerika di Chicago yang tertarik mendalami kebudayaan Indonesia. Mereka aktif terlibat dalam pergelaran seni budaya Indonesia,” ungkap Sherly, ibu lima anak kelahiran Jakarta, 24 Februari 1963 itu, dengan wajah sumringah. Tidak mengherankan, tari-tarian hingga permainan alat musik gamelan bisa dipertunjukkan sedemikian terampilnya oleh warga asli Amerika di Chicago, seperti halnya dalam festival seni Indonesia di Spring Green pekan lalu.
Bukan hanya di Chicago. Sebelumnya, Sherly yang menjabat sebagai Kasubdit Pensosbud KJRI Toronto, menyelenggarakan per-gelaran seni yang menghadirkan seniman ternama asal Yogyakarta, Didik Nini Thowok. Pergelaran, yang diselenggarakan bekerja sama dengan kelompok seni Tribal Cracking Wind, berlangsung sukses. Para pencinta seni di Kanada sangat terpuaskan dengan persembahan kreativitas seni budaya. (**)

Jadi Diplomat

Seni, bagi Sherly, sudah sedemikian mendarah daging. Ia tetap menjiwainya meskipun pada 1989 ia memutuskan untuk meninggalkan dunia hiburan. Bukan lantaran kebetulan belaka apabila ia memilih jadi diplomat, sebuah pilihan yang juga tidak mudah ditempuhnya. Pasalnya, keputusan untuk mundur itu ia tempuh ketika sedang berada di puncak karier.

Dunia perfilman Indonesia pada era 1980-an didominasi aktris-aktris berwajah indo, sebagaimana halnya Sherly. Tidak mengherankan apabila Sherly, yang di tubuhnya juga mengalir darah indo, ketika itu juga sukses menjadi salah satu bintang papan atas. Tidak kurang dari enam film layar lebar dibintanginya, mulai dari Senyum dan Tangis (1974), Jangan Biarkan Mereka Lapar (1975), Ridho Allah (1977), Akibat Godaan (1978), Chips (1982), dan Malu-malu Mau (1988).

Bukan sekadar mengandalkan wajah indo, keberhasilan Sherly di panggung perfilman sebetulnya juga tidak lepas dari bakat seni yang dimilikinya. Selain gemar melukis, Sherly piawai menulis puisi. Setidaknya ada tiga buku kumpulan puisi sudah diterbitkan, yakni Badai di Perbukitan Teh (1979), Bunga Anggrak untuk Mama (Puisi Anak-anak) yang diterbitkan tahun 1981 oleh PN Balai Pustaka, dan Mama Aku Sangat Rindu Padamu.

Tidak hanya aktif menyanyi, Sherly juga pintar berakting. Sandiwara anak-anak di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan sandiwara televisi mengawali kiprah Sherly di dunia seni peran, sebelum akhirnya ia mulai terjun ke dunia film pada 1974.

Namun, keartisan ternyata bukanlah puncak cita-cita bagi perempuan indo yang juga berdarah Flores ini. Impian berprofesi sebagai diplomat berawal ketika Sherly, yang menjadi wartawati cilik untuk majalah Kartini dan baru berusia 15 tahun, berkesempatan mewawancarai Adam Malik, Wakil Presiden ke-2 RI. Sosok Adam Malik sebagai pemimpin yang tegas, berani, namun juga rendah hati, tak urung menjadi pribadi yang sangat ia kagumi. Sejak wawancara itulah, Sherly bertekad bersungguh-sungguh menggeluti dunia jurnalistik, sekaligus memantapkan langkah untuk menjadi seorang diplomat. Dunia hiburan pun ditinggalkannya pada 1989.

Sayang, tudingan sinis muncul mengiringi keberhasilan Sherly diterima bekerja di Departemen Luar Negeri RI. “Mereka menuding saya memanfaatkan keartisan saya,” kata Sherly gusar. Padahal, ia menjalani proses seleksi tidak dengan menyandang nama “Sherly Malinton”, melainkan “Sylvia Sherly”, yang mungkin tidak se- orang pun mengenalnya. Jalur profesi yang ditempuh juga tidak menyimpang dari disiplin ilmu yang ditekuninya ketika masih ber- kuliah di perguruan tinggi.

Terlepas adanya tudingan- tudingan sinis, Sherly berhasil membuktikan ia mampu berprofesi sebagai diplomat secara profesional. Ia bahkan bertekad tidak akan kembali ke dunia akting setelah berhasil menjadi diplomat.

Berbagai penugasan pernah diemban sebelum bertugas di KJRI Chicago, termasuk menjabat sebagai Kepala Bidang Amerika di Bagian Pengembangan dan Pengkajian Kebijakan (BPPK) Deplu RI. Sebelum bertugas di BPPK, ia menjalani penempatan di perwakilan RI di Toronto (Kanada) serta di Roma (Italia).

Perlindungan Warga

Sebagai diplomat karier, Sherly berkomitmen memberikan pelayanan yang terbaik bagi warga Indonesia. Pelayanan warga diutamakan, namun ia juga berupaya mengedepankan perlindungan warga. Perlindungan warga dimaksudkan agar warga Indonesia benar-benar memperhatikan status kewarganegaraannya.

“Jangan sampai ketika paspor tinggal dua bulan mereka bingung sendiri sewaktu mau ke Indonesia. Mendadak bingung karena paspor habis masa berlakunya. Jadi kami ingatkan. Sebab, salah satu bentuk perlindungan adalah untuk legalitas dokumen. Legalitas itu yang menghindarkan kita dari hal-hal tidak diinginkan,” kata Sherly.

Sedikitnya ada 300 warga Indonesia bermukim di Chicago, Illinois. Secara keseluruhan, ada 9.000 warga Indonesia yang bermukim di 13 negara bagian di kawasan Midwest, yang menjadi wilayah akreditasi KJRI Chicago. Mereka adalah warga Indonesia yang melaporkan diri ke konsulat. Jumlah tersebut tidak tertutup kemungkinan jauh lebih besar, karena bisa juga ada warga Indonesia yang tidak melaporkan diri.

“Kami dorong warga Indonesia yang ada di luar agar melapor diri ke perwakilan Indonesia setempat. Sehingga, kalau terjadi hal-hal darurat, kami bisa cepat memberikan bantuan,” ujar Sherly yang sudah merampungkan studi S2 dari Universitas Indonesia ini. Ia menganggap penting lapor diri, terutama apabila sewaktu-waktu terjadi sesuatu.

Mengingat sedemikian banyak warga Indonesia yang ditangani KJRI Chicago, ia tidak memungkiri terkadang telepon dari warga agak lambat direspons. “Kami minta pengertian, mengingat banyak yang diurusi KJRI. Jadi, kalau mereka telepon, dan teleponnya sibuk terus, ya harap dimaklumi,” katanya. Tetapi, ia berkomitmen, kesibukan tidak menghalangi tekadnya ataupun staf konsulat untuk terus memberikan pelayanan yang ter-baik bagi warga Indonesia di Chicago. [SP/Elly Burhaini Faizal]

About these ads

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

“Siap Jadi Tuan Rumah” Liputan Majalah Tempo Tentang Bau-Bau

3 Komentar Add your own

  • 1. ajie  |  Januari 19, 2012 pukul 5:06 pm

    Sherly sdh benar2 sukses dan saya ingat tulisannya waktu mewawancarai Menlu Adam Malik

  • 2. boim  |  Januari 19, 2013 pukul 8:20 am

    aku pengen ketemu….. dan wawancara……

  • 3. aku  |  Januari 10, 2014 pukul 9:12 am

    semalam ketemu di salah satu supermarket di tangerang selatan, lupa-lupa ingat, ternyata sherly. Sudah berumur tapi masih tetap cantik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


Kepala Daerah

Photo Flipbook Slideshow Maker

Prakata Pimpinan Redaksi

Glitter Photos Kami ucapkan selamat datang di Majalah Semerbak Online Kota Bau-Bau. majalah udara ini merupakan isi dari edisi cetak dari majalah Semerbak yang kami terbitkan setiap bulannya. Kami berharap, masukan saran dan kritik membangun dari pembaca sekalian. Meski kami hanya mengunakan ruang blog, tapi kami berharap para netter dan blogger di Indonesia maupun di belahan dunia ini bisa mengapresiasi terhadap apa yang kami perbuat...selamat Membaca..

Kota Bau-Bau


Photo Flipbook Slideshow Maker

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: